We Shall Meet In Japanzuki

Japanzuki. Acara yang setiap tahun kudatangi sendirian saja. Meskipun tidak seperti konser musik My Chemical Romance di Jakarta, tapi aku pribadi menganggap acara ini cukup keren, dengan semua cosplayer, Koinobori, dan makanan khas jepangnya. Meskipun made in Indonesia, tapi rasanya lumayan. It’s worth with the price.

Sayangnya tahun ini aku kembali datang ke JapanZuki sendirian saja, atau aku datang bersama sahabatku, Cho. Dia berkali-kali mendorongku untuk mencari pasangan. Setidaknya untuk senang-senang saja, katanya. Tapi aku belum menemukan yang sreg di hati. Kalau berakhir buruk, buat apa juga, kan?

###

Rabu, 25 Maret 2009. 07.45pm

…Itteita kara da yo, I believe…

Lagu Orion-nya Mika Nakashima membuatku berpaling dari tugas Sakubun yang selama setengah jam ini sudah membuatku stress. Aku membuka sms.

Lagi apa Aizawa?

Begitu bunyi sms itu. Biasanya sms seperti itu tak akan kubalas. Gak penting, pikirku. Cuma ’ngabisin pulsa yang tinggal sedikit saja. Tapi kali ini berbeda. Meskipun singkat dan tak berarti, tapi tak urung jantungku berdetak lebih cepat. Bukan isi messagenya, tapi pengirimnya yang membuatku begitu. Dengan cepat aku membalasnya

Ngerjain tugas. Puyeng banget nih, kubilang.

Dia membalas, –Duh rajinnya.

Belum sempat kubalas dia sudah mengirim sms lagi. –Ada JapanZuki di Himpunan kamu ya?

Hemm… kebetulan dia menanyakannya. Aku membalas mengiyakan. –Kamu mau datang?, lanjutku.

Lama…aku menunggu balasannya. Hujan yang turun sejak sore telah berubah dari hujan angin menjadi hujan rintik-rintik yang hangat. Bau tanah basah setelah hujan dan suara air yang mengalir disertai desau angin yang lembut  selalu membuatku senang, entah kenapa.

Mau. Kamu juga datang, kan?

Alhamdulillah…ucapku dalam hati.

Ya iyalah. Aku kan panitia juga.

Oke. Aku bakalan datang. Kamu tunggu ya, kita ketemu disana.

Siip. Inget ya, cowok harus nepatin kata-katanya.

Dia memberiku wajah yang sedang tersenyum dalam sms berikutnya. Kami masih saling berkirim beberapa sms lagi sebelum mengakhirinya dengan ucapan selamat malam kepada masing-masing.

Aku  kembali menatap tugas Sakubun, tapi kali ini perasaanku sudah ceria kembali. Hujan di luar masih setia menemaniku. Aku meraih MP4 dan menyalakannya. Lagu yang sama dengan Ringtoneku pun terdengar.

…Naita no wa boku data

Tsunagatta fuyu no seiza

Kono sora ni kietekanai you ni

Mitsumeteitanda yo, I believe…

###

Kamis, 26 Maret 2009. 08.07am

Seharian ini aku memperkirakan aku akan sibuk luar biasa. Setelah pergi pagi-pagi dari rumah, aku langsung menuju tempat kos salah seorang temanku di daerah Setiabudi Bandung. Rencananya kali ini kami akan mengerjakan tugas kelompok untuk mata kuliah Kanji. Karena kami akan mempresentasikan kanji-kanji yang ada di lirik lagu Prisoner of Love-nya Utada Hikaru pada hari senin yang akan datang, sementara aku dan Yui teman sekelompokku juga adalah panitia Japanzuki. Padahal kami bisa saja mengerjakannya pada hari minggu, tapi aku dan Yui memperkirakan kami pasti tepar setelah acara bazaar itu.

Jadi disinilah aku. Duduk-duduk di dalam tempat kos Ayumi, memutar-mutar Fude tanpa menggunakannya sambil menunggu Cho dan Yui yang masih dalam perjalanan.

Saat asyik mengerjakan kanji bagianku, handphone Yui berdering. –Rapat Japanzuki jam 10. Seluruh panitia diharap hadir, atau dicoret dari kepanitiaan.

Oke. Ini pasti kerjaan Kaichooku, Tanobi, kaichoo paling keren sepenjang sejarah Himpunanku. Well, yang kumaksud keren disini adalah orang yang CoolHeaded dalam segala situasi. Selalu ’ngambil sisi positif dari tiap situasi dan selalu bisa menenangkan anak buahnya yang saat kita mulai ’ngaco. Meskipun mukanya juga…yaaa gitu deh. Kayaknya tidak perlu dijelaskan.

Jadilah aku dan Yui berangkat ke kampus yang terletak tidak jauh dari tempat kos Ayumi. Disana kami menunggu selama beberapa saat sebelum akhirnya Hikaru, Sekjen Himpunanku memundurkan rapatnya sampai jam 1 siang karena banyak yang belum datang. Aku kembali ke tempat kos Ayumi untuk melanjutkan tugas kanji. Saat itulah lagi-lagi lagu Orion kembali terdengar.

…kimi ga

Itteita kara da yo, I believe…

Aku meraih Hp dan membuka sms. Dari Dia.

Ai, aku jatuh dari motor.

Aku menatap sms itu dengan tidak percaya. Setelah sadar, aku cepat-cepat membalas.

Kok bisa? Kamu ga apa-apa?

’ngehindarin anak yang ’nyebrang. Sekarang luka-luka nih.

Parah?

Lumayan.

Ya Allah. Trus gimana dong? Udah ke dokter?

Belum. Baru mau nanti sore.

Aku tercenung selama beberapa saat. Meskipun matahari bersinar cukup terik saat itu, tapi wajahku dingin. Aku menatap Yui yang balas menatapku dengan aneh, kemudian dia menanyakan pertanyaan yang paling mendasar,

Kenapa sih?

###

Rabu, 31 Desember 2008. 10.38pm

”Hai. Kamu anaknya sensei Minamoto ya? Saya Akira.”

Aku pun mengulurkan tangan dengan canggung dan memperkenalkan diriku juga. Memberinya senyum yang sedikit terpaksa. Maklum, tampangnya tengil, nyengitin.

”Sendirian aja? Kenapa gak gabung disana ama anak-anak muda yang lain? Daripada disini ama orang-orang tua. Atau kamu ’emang suka yang tua-tua gitu ya?” katanya.

Aku memberinya senyum sinis. Tapi sepertinya dia malah menikmati mengejekku. Well, as bad as it look like, pikirku

”Kamu juga mutermuter sendirian.” gumamku membalas ucapannya.

Kupikir dia tak akan mendengar, tapi ternyata pendengarannya cukup tajam. ”Gak apa-apa dong. Aku yang punya rumah kok.” ucapnya.

O’ow! Peraturan pertama dalam bertamu: jangan pernah menghina anaknya yang punya rumah. Dan aturan itu dengan sukses sudah kulanggar!

”Kuliah dimana?” tanyanya

Aku menyebutkan kampusku. ”Wah sama dong.” katanya. ”Kita satu fakultas, ya? Kok gak pernah lihat sebelumnya ya?”

Begitulah, akhirnya kami mengobrol banyak hal. Kesan pertamaku ternyata salah. Memang dia tengil, tapi ternyata dia juga baik dan enak untuk diajak mengobrol. Itulah pertemuan pertama kami.

###

Sabtu, 28 Maret 2009. 10.22am.

Akhirnya hari ini tiba juga. Pagi-pagi tadi aku muntah-muntah karena masuk angin dan terlalu capek. Tiba di kampus, aku berusaha membantu teman-teman yang lain sebisaku. Mulai dari membantu dekorasi sebisa mungkin, menyapu lapangan, membawa meja untuk stand, dan lain-lain.

Tahun ini tak ada koinobori di langit. Tahun ini tak ada dango yang enak sekali itu, tahun ini kami mengambil tema Obake dengan Mong hitam, dan tahun inipun aku masih sendiri. Kemarin aku meng-sms dia, menanyakan kabarnya dan menanyakan apa dia akan datang pada JapanZuki ini.

Ga tahu. Lihat nanti saja, ya, katanya.

Band angkatan kami yang berkostum hijau bermain di panggung Teater Terbuka setelah Taishogoto tampil. Dua buah pohon Sakura buatan menghiasi panggung, puluhan tulisan Shuji menutup sisi-sisi panggung dan poster JapanZuki besar menutup bagian belakang panggung. Aku menatap ke arah Mong hitam dan berharap melihat sosoknya datang. Rupanya Cho melihat perbuatanku itu.

”Udah deh. Orang baru kecelakaan juga. Dia gak bakalan datang, lagi.”

Aku mengangguk. ”Atashi to omoimasu, sih. Tapi tetep aja kan…”

Cho melengos. ”Udah deh. Daripada kamu kayak gitu terus mending kita ke Obake House, yuk.” katanya sambil menarik tanganku.

Aku menyentakkan tnganku kembali. ”Belon buka kalee…” jawabku agak sengit.

Cho manyun mendengar jawabanku. ”Dasar lagi PMS.” katanya ’ngedumel.

00.53pm

Aku melaksanakan tugasku: mendandani Obake yang akan berjaga dan menakut-nakuti pengunjung di rumah hantu. Meskipun area yang digunakan untuk rumah hantu itu kecil, tapi teman-temanku dari tim dekorasi telah membuat labirin dari koran sehingga jalannya menjadi panjang dan berliku. Luar biasa memang. Setidaknya dengan mengerjakan tugas ini, pikiranku bisa teralihkan. Sungguh kocak melihat teman-temanku sendiri menjadi hantu. Beraneka macam hantu ada disini; Yuki Onna, hantu Geisha, dan obake-obake lain.

Setelah selesai melakukan itu, aku dan Cho mengantri di pintu masuk. Aku tak menyangka Obake House akan sepenuh itu. Kami terpaksa mengantri dari belakang, meskipun aku panitia, tidak ada pengecualian. Kami membayar tiket masuk dan penjaganya mengecap tangan kami dengan cap merah. Mirip Dufan, memang.

Harus kuakui meskipun aku yang mendandani mereka, tetap saja aku sempat ketakutan juga di dalam. Suasana yang gelap dan sound yang mendukung benar-benar membuat kami merinding. Para Obake itu ada yang cuma duduk diam, ada juga yang mengikuti kami, atau ada juga obake yang ’ngesot, ga ada kerjaan.

Kami lalu keluar lagi. Kebetulan band kenalanku, Doremi, sudah akan bermain. Waktu itu juga hujan mulai turun. Tapi karena Doremi bermain dengan cantik, penonton akhirnya tidak memperdulikan hujan dan tetap menonton dengan setia. Menurutku, penampilan mereka malah lebih baik daripada bintang tamu yang kami undang. Menurutku bintang tamu hanya berteriak-teriak tanpa alasan yang jelas.

05.12pm

Masih tak ada tanda-tanda dia akan datang. Sementara hujan turun sekali lagi. Dimana-mana aku melihat orang-orang datang dengan berpasangan. Mereka tertawa-tawa dalam tetes-tetes air hujan. Untuk sekali ini aku sama sekali tidak bahagia dengan hujan. Dengan sedikit sebal aku meraih MP4 dan mendengarkan lagunya, dari pada aku mendengarkan band yang membuat sakit telinga dengan suara brang-breng-brong ga jelas.

Naita no wa boku data

Yowasa wo misenai koto ga sou

Tsuyoi wake ja naitte kimi ga

Itteita kara da yo, I believe

Believe? Pikirku sinis. Believe apanya. Toh seberapa banyakpun aku berharap dan percaya padanya, tetap saja dia pada akhirnya tidak datang. Memang aku tahu itu bukan keinginannya, tapi aku tetap merasakan kekecewaan yang dalam.

Lagi-lagi keitaidenwaiku bergetar. Aku merongoh saku dan mengeluarkannya, paling-paling isinya dari salah satu koordinator yang memintaku bekerja lagi. Aku membacanya dengan malas-malasan.

Lihat kebelakang dong.

Aku menoleh. Selama sepersekian detik nafasku tertahan di tenggorokan. Aku tak mampu bicara, hanya memandangnya saja yang sedang berdiri dengan tangan kiri diperban dan sebelah kruk di tangan yang lain. Setelah itu aku sadar dan cepat-cepat bangkit. Kata-kataku keluar dengan otomatis, sangat bertentangan dengan apa yang sebenarnya ingin kukatakan.

”Kamu ’ngapain kesini?”

Senyumnya masih sama menyebalkan dan nyeleneh seperti saat pertama kali kami berkenalan. Tapi sekarang dia meringgis kesakitan sesekali.

”Aku panggil-panggil dari tadi kamu ga nolehnoleh. Tau’nya lagi dengerin MP4 ya? Dasar! Band udah ada di depan mata masih aja dengerin MP4.” ledeknya.

Aku mengerutkan kening melihat kondisinya.

”Kamu ngapain kesini? Udah tau sakit.” ujarku.

Cengirannya berubah jadi senyum lembut, seperti angin hujan yang sangat kusukai. ”Karena aku udah bilang bakalan datang. Ada cewek yang pernah ngomong gini sama aku: cowo harus nepatin kata-katanya.”

Tidak seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dan aku tak percaya pada kebetulan. Nggak ada yang bisa menjamin kami akan menjadi lebih dari sekedar teman. Tak ada jaminan JapanZuki tahun depan masih akan diadakan. Namun disinilah aku, menatapnya dalam derai hujan rintik-rintik. Band terakhir melantunkan lagu penutup dan JapanZuki pun berakhir.

Lagu Mika Nakashima masih mengalun dengan lembut lewat earphone 20.000 rupiahku. Entah kenapa, mendadak suara dari MP4ku menjadi jelas sekali.


Nagareboshi kazoeteta

Kimi to deaeta kiseki ga

Ima boku ni

Ikiteiru imi wo

Oshiete kureta kara, I believe

(Counting the number of shooting stars

I’m here right now because we met

Because you taught me, I believe)

Published in: on June 27, 2009 at 6:47 am  Leave a Comment  

Regret

Tuhan…

Seandainya dia tahu apa yang kurasakan

Betapa besar rasa ini

Betapa perih sakitnya

Betapa besar pengorbana yang kuberikan untuknya

 

Tuhan…

Andaikan aku dapat memutar waktu,

Andaikan aku dapat mengulang semuanya

Aku tak akan mengatakan apapun yang akan menyakiti hatinya

 

Tuhan…

Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi,

Seandainya aku bisa meramalkan kemana kakiku membawaku,

Seandainya aku dapat mengetahui akibat dari setiap tindakanku,

Aku tak akan mengatakan apapun yang akan menyakiti hatinya.

 

Tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi,

Aku tak tahu kemana kaki ini akan membawaku

Aku tak bisa tahu apa yang akan terjadi nanti

 

Jadi Tuhan…

Kupasrahkan semua ini pada-Mu

Kuharap Engkau selalu melindungiku

Saat hati kecilku menuntunku pada-nya.

Lindungi aku dalam setiap langkahku.

Bawa aku dalam kearifan surgamu.

Dan rangkul pundak kecilku saat aku menghadapi dunia

Published in: on June 10, 2009 at 4:25 am  Leave a Comment  

First thing first

Hmm… tulisan pertama di Blog baru nih. Enaknya nulis apa ya? Well, perkenalan dulu. Sebenernya ini bukan Blog pertama. Blog yang sebelumnya namanya Lucia00Fiorent00Taishogoto.wordpress.com. Tapi namanya kepanjangan, jadi aja mendingan bikin Blog baru. Lagipula, Aq ga khawatir kehilangan pengunjung koq. Karena EMANG GA ADA YANG NGUNJUNGIN BLOG ITU T_T
Anyway: new Blog, new Hope kan? Uda cukup lama juga ga posting lagi. Uda kira-kira 3 bulan sejak terakhir posting di Blog yang lama. Lama banget kan? Lama banget kan? Lama banget kan? So sekarang aq dah punya Blog baru. Tapi kayaknya Aq masih memiliki harapannya yang sama seperti ketika aku memulai nulis di Blog yang lama:
1. Semoga aku bisa terus nge-Blog dan menyuarakan apa yang ada dalam pikiranku lewat internet.
2. Semoga banyak yang mau mendengar pikiran and idea-ku, jangan lupa kasih komen ya.
3. Semoga aku bisa nyisihin uang biar bisa posting sesering mungkin.
4. Udah ah kebanyakan!
Okay guys, rasanya cukup sekian dulu untuk lembar pertama ya. Selanjutnya kita terusin ajah langsung ke lembaran-lembaran lain yang lebih punya makna.

P.S: Ni Blog di bikin pake alamat e-mail yahoo.co.uk. Gaya banget ya yang namanya internet ampe kita bisa nyembunyiin identitas kita disini tapi tetep bisa menyuarakan pikiran2 kita. Thanks God for it.

Published in: on June 10, 2009 at 4:17 am  Leave a Comment  

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Published in: on June 10, 2009 at 3:35 am  Comments (1)